TORAJA — Fenomena maraknya praktik perjudian jenis Kupon Putih (KP) dan mesin dindong di wilayah Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara, Sulawesi Selatan, mulai menimbulkan keresahan serius di tengah masyarakat.
Aktivitas ilegal ini bukan hanya merusak tatanan sosial, tapi juga menggerogoti ekonomi warga yang terjebak dalam lingkaran “untung-untungan” semu alias fatamorgana.
Aktivis dan pegiat media sosial (medsos) Yohanes Balo, menyebut perjudian di Toraja telah menjadi penyakit sosial yang sulit dikendalikan.
“Dampaknya luas, bisa saja mulai dari pencurian, kekerasan rumah tangga, sampai penipuan. Ini bukan lagi sekadar hiburan rakyat tapi sudah merusak sendi kehidupan masyarakat. Saya pantau terus di Toraja makin ramai saja sejak Juni-November ini,” ujarnya, Rabu (12/11).
Yang membuat situasi kian pelik, praktik perjudian ini diduga mendapat “angin segar” dari oknum tertentu.
Beberapa warga bahkan menyebut, aparat penegak hukum konon diduga membiarkan bisnis haram ini tetap beroperasi tanpa hambatan berarti.
Dalam laporan yang diterima sejumlah media, seorang pria bernama TE, yang disebut-sebut sebagai “bos besar” alias pengendali utama Togel di Toraja Utara dan Tana Toraja leluasa bercokol dan memantau tempat bisnisnya di sejumlah titik di Toraja Utara dan Tana Toraja tanpa ada rasa was-was sedikitpun.
Dari penelusuran media ini beberapa bulan terakhir, salah seorang warga AS secara terbuka mendengar langsung dari TE, konon dia bahkan mengakui dirinya terlibat langsung dalam jaringan tersebut.
Ia diduga memiliki hubungan dengan RI, pengendali utama jaringan Toto Gelap (Togel) dan Dindong. TE adalah anak buah bandar togel berkode 01 alias RI yang konon berdiam di Timika Papua saat ini.
TE diduga didatangkan dari Timika untuk melebarkan sayap di Torut guna menambah omset sebanyak mungkin.
Persaingan di antara mereka kabarnya mulai memanas. Informasi yang beredar konon diduga kuat, AS menyebutkan TE tengah berupaya menyingkirkan RI demi menguasai penuh bisnis dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah per-bulan itu.
“Dia sudah merasa punya pengaruh besar, berkoordinasi dengan banyak pihak, dan merasa kebal hukum,” ungkap salah satu sumber yang enggan disebut namanya.
Keresahan warga semakin meningkat karena aparat kepolisian di daerah dinilai belum menunjukkan langkah serius untuk menindak para pelaku.
Upaya konfirmasi ke Kasat Reskrim Polres Toraja Utara, Iptu Ruxon Pasabuan hingga berita ini diturunkan, belum mendapat tanggapan.
Sementara itu, elemen masyarakat mendesak Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo agar turun tangan langsung menertibkan praktik perjudian yang kian merajalela di Toraja.
Diketahui, pemerintah pusat di bawah Presiden Prabowo Subianto kini tengah gencar melakukan pembersihan terhadap berbagai mafia dan jaringan kejahatan besar di tingkat nasional hingga lintas negara.
Namun di daerah, penyakit sosial seperti togel dan dindong justru masih bebas beroperasi tanpa hambatan berarti.
“Kalau pusat bisa berani sikat koruptor dan mafia besar, masa di daerah aparat belum melakukan upaya pemberantasan judi Kupon Putih (KP) dan Dindong, mungkin ada dugaan via flyover?,” kata salah satu warga dengan nada kecewa.
Warga berharap kasus ini segera mendapat perhatian serius agar praktik perjudian tidak semakin menjadi budaya baru yang merusak generasi emas bangsa, khsususnya Toraja. (Yohan/BL)






